
Surakarta, 28 Agustus 2025 — Bangsa Indonesia dinilai belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang Barat, baik dalam politik, ekonomi, maupun budaya. Pandangan itu disampaikan Garis Juang Indonesia dalam forum diskusi publik “Suara Pergerakan: Aspirasi Generasi Muda Indonesia dalam Pusaran Politik Global” di Surakarta.
Menurut forum tersebut, pengaruh Barat hadir melalui berbagai bentuk, mulai dari ketergantungan pada utang luar negeri, investasi, dan teknologi, hingga dominasi nilai-nilai liberal yang dianggap kerap bertentangan dengan jati diri bangsa. Intervensi juga tampak dalam isu hak asasi manusia, kebijakan lingkungan, serta dinamika geopolitik kawasan yang dinilai membatasi ruang gerak Indonesia dalam menentukan arah pembangunan.
Salah satu contoh yang disoroti adalah kebijakan pajak impor Amerika Serikat terhadap produk Indonesia. Forum menilai kebijakan proteksionis tersebut membuat Indonesia hanya diposisikan sebagai komoditas ekonomi, bukan mitra sejajar. Produk dalam negeri kerap dikenai tarif tinggi, sementara pasar lokal dibanjiri barang impor yang melemahkan industri nasional.
Selain itu, penguasaan tambang emas Freeport di Papua oleh perusahaan Amerika serta pembelian pesawat militer dan komersial dari Amerika Serikat disebut sebagai bentuk nyata kuatnya kendali asing. Menurut forum, dana triliunan rupiah yang digelontorkan untuk belanja besar semacam itu semestinya bisa dimanfaatkan untuk membangun sekolah, rumah sakit, layanan kesehatan, pangan, dan infrastruktur dasar yang lebih merata bagi rakyat.
Meski begitu, Garis Juang Indonesia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara kuat dan mandiri. Salah satu langkah yang didorong adalah memperkuat solidaritas dan kerja sama dengan negara-negara Asia, seperti Tiongkok, India, dan anggota ASEAN. Kerja sama regional dinilai dapat membuka jalan bagi pertukaran teknologi, perdagangan yang lebih adil, serta pembangunan ekonomi yang saling menguntungkan.
Dalam pernyataannya, Garis Juang Indonesia menyerukan lima poin utama:
- Indonesia harus berdikari dengan mengandalkan kekuatan ekonomi nasional, teknologi sendiri, dan kemandirian politik luar negeri.
- Mengurangi ketergantungan pada utang dan investasi asing dari Barat.
- Mengutamakan anggaran untuk kesejahteraan rakyat, bukan belanja besar yang menguntungkan industri asing.
- Memperkuat kerja sama strategis dengan negara-negara Asia.
- Meneguhkan kembali prinsip politik luar negeri bebas-aktif secara nyata.
“Sudah saatnya Indonesia benar-benar merdeka, bukan hanya secara simbolis, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan sendiri. Dana triliunan untuk membeli pesawat asing seharusnya kembali ke rakyat. Indonesia juga harus memperkuat solidaritas Asia agar tidak lagi terjebak dalam cengkeraman Barat,” ujar perwakilan Garis Juang Indonesia.
Melalui forum Suara Pergerakan, Garis Juang Indonesia berharap kesadaran politik kritis generasi muda semakin tumbuh, sehingga Indonesia dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat, kuat, dan makmur. (**)
