banner

LIFESTYLE – Seorang pengusaha dan tahfidz Alquran, Taqy Malik, mengungkapkan kerugian yang dialaminya akibat hilangnya akun Instagram bisnis miliknya. Akun tersebut merupakan salah satu aset berharga yang dapat menghasilkan pendapatan melalui berbagai kegiatan jual-beli dan promosi di platform tersebut.

Taqy Malik menyatakan bahwa akun Instagram bukan hanya sebagai sarana berkomunikasi dengan pengikutnya, tetapi juga sebagai aset yang dapat digunakan untuk berjualan dan berbisnis. Dalam wawancaranya di kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Selasa (20/7/2021), Taqy Malik mengungkapkan dampak kerugian yang dirasakannya, terutama kehilangan klien.

“Kerugian pasti karena itu kan aset sebetulnya. Karena followers ini kan aset kita, bisa kita ajak bersosial dan berbisnis,” kata Taqy Malik.

Selain itu, Taqy Malik juga menjelaskan bahwa kejadian ini memengaruhi aspek bisnisnya secara keseluruhan. Hilangnya akun Instagram berdampak pada kegiatan berbisnis yang selama ini dibangun melalui media sosial tersebut. Meskipun mengalami kerugian, Taqy Malik menyatakan bahwa dirinya hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.

“Kemarin WhatsApp segala macam tiba-tiba mau tanda tangan kontrak hilang segala macam. Intinya saya bangun bisnis kan dari sosial media ya, pasti ada kerugian,” ungkap Taqy Malik.

Meskipun mengalami kendala, Taqy Malik tetap berusaha mencari solusi dengan menggunakan akun bisnis lainnya sebagai pengganti sementara. Ia memanfaatkan akun bisnis tersebut untuk menjalankan kegiatan bisnisnya dan mempertahankan hubungan dengan pengikutnya. Taqy Malik menyampaikan harapannya agar akun aslinya dapat kembali dan mengembalikan normalitas dalam bisnisnya.

“Cuma di sisi lain kita ketika disuruh bikin akun baru, makanya saya pakai akun shafron jadi followers dan penjualan naik. Alhamdulillah kemarin kita penjualan sehari bisa setengah miliar,” tambah Taqy Malik.

Pengalaman Taqy Malik menyoroti pentingnya menjaga keamanan dan keberlanjutan aset digital, terutama dalam dunia bisnis yang semakin bergantung pada media sosial sebagai sarana pemasaran dan interaksi dengan pelanggan.